Sabtu, 12 Juni 2010

Prasangka dalam Pandangan Islam

BAB I

PENDAHULUAN


Manusia dilahirkan sebagai mahluk individu dan juga mahluk sosial atau dalam istilahnya disebut zone politicon. Pada hakikatnya manusia walaupun dikatakan sebagai mahluk individu yang memiliki sifat egosentris dan individualistis yang tinggi namun manusia dalam perjalanan hidupnya mulai dari masa enol hingga usia lanjut dan akhir hayat sangat membutuhkan keberadaan orang lain, baik itu diberbagai macam aspek segi kehidupan dan kegiatan sehari-hari, hingga akhirnya timbulah suatu hubungan timbal balik yang disebut dengan interaksi social.

Iteraksi sosial dilingkungan keluarga dan masyarakat sangat terasa sekali sebagai wahana atau media untuk manusia agar dapat saling berkomunikasi, berbagi dan mencurahkan segenap perasaan ataupun pendapat antar masing-masing individu ataupun kelompok karena kalau kita kembalikan pada kalimat diatas sangat jelas sekali bahwa selain manusia sebagai mahluk individu maka manusia juga disebut sebagai mahluk sosial yang sangat membutuhkan orang lain disekitarnya, bisa jadi manusia mampu bertahan selama beberapa hari hidup dalam kesendiriannya namun tidak mapu hidup sendiri untuk selamanya.

Dalam proses interaksi sosial ini tentunya tak selalu berjalan mulus dan baik, karena manusia juga memiliki akal dan pikiran yang terkadang akal pikiran ini di dominasi dengan prasangka-prasangka, baik itu yang bersifat positif maupun negative, namun dalam kenyataan yang sering ditemukan dalam keseharian,cenderung prasangaka negative ini lah yang sering muncul dan menjadi penghambat dalam proses interaksi sosial yang baik dan sehat, terkadang kita berpikiran buruk terhadap orang lain atau kelompok tertentu, padahal apa yang kita pikirkan itu belum tentu benar adanya , berikut ini pemaparan lebih lanjut tentang prasangka.

BAB II

PEMBAHASAN


A.
Pengertian Prasangka Sosial

Pengertian prasangka berbeda dengan pengertian stereotipe, diskriminasi, rasisme, & sexism. Prasangka adalah sikap negatif sebuah kelompok & anggota-2 individu, sedangkan stereotipe kepercayaan tentang atribut pribadi sekelompok orang. Stereotipe terkadang dibesar-2kan, tidak akurat, atau berupa perlawanan ide-2 baru. Discrimination yaitu perlakuan atau perilaku negatif yang tidak adil terhadap orang yang berbeda ras, sedangkan sexism adalah sikap prasangka individu & perilaku diskriminasi hanya karena perbedaan jenis kelamin, biasanya wanita cenderung dianggap lemah.

Prasangka atau prejudice berasal dari kata latin prejudicium yaitu preseden/ keputusan yang diambil yang tanpa ada penelitian dan pertimbangan cermat, tergesa-gesa, tidak matang.

Prasangka adalah dugaan-dugaan yang memilki nilai kearah negatif. Namun dapat pula dugaan ini bersifat positif. Sedangkan prasangka sosial menurut para ahli psikologi,yaitu:

1. Kimball Young, prasangka sosial adalah mempunyai ciri khas pertentangan antara kelompok yang ditandai oleh kuatnya in group dan out group.

2. Sherif dan sherif, prasangka sosial adalah suatu sikap negatif para anggota suatu kelompok, berasal dari norma mereka yang pasti, kepada kelompok terhadap individu lain atau kelompok lain.

3. Sears et all, (1985) prasangka sosial adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok tersebut, artinya prasangka sosial ditujukan pada orang atau kelompok orang yang berbeda dengannya atau kelompoknya.

4. Papalia dan Sally, (1985) Prasangka sosial adalah sikap negatif yang ditujukan pada orang lain yang berbeda dengan kelompoknya tanpa adanya alasan yang mendasar pada pribadi orang tersebut.

5. Allport, (dalam Zanden, 1984) menguraikan bahwa prasangka sosial merupakan suatu sikap yang membenci kelompok lain tanpa adanya alasan yang obyektif untuk membenci kelompok tersebut.

6. Kossen, (1986) menguraikan bahwa prasangka sosial merupakan gejala yang interen yang meminta tindakan prahukum, atau membuat keputusan-keputusan berdasarkan bukti yang tidak cukup.

Jadi, Prasangka sosial adalah suatu sikap yang diperlihatkan oleh individu atau kelompok terhadap individu lain atau kelompok terhadap individu lain atau kelompok lain.

B. Sumber Dan Pembentukan Prasangka

Sumber utama yang biasa menghasilkan prasangka adalah perbedaan antar kelompok, yakni perbedaan etnis atau ras, perbedaan posisi dalam kuantitas anggota yang menghasilkan kelompok mayoritas dan minoritas, serta perbedaan ideologi. Sumber lain dari prasangka adalah kejadian histories (Koeswara, 1988).

Prasangka yang bersumber pada perbedaan etnis dapat ditemukan pada masyarakat heterogen yang merangkum berbagai kelompok etnis yang memiliki latar kebudayaan yang berbeda, misalnya pada masyarakat Indonesia. Adapun prasangka yang bersumber pada perbedaan ras (juga agama) sering ditemukan pada masyarakat yang multirasial, seperti di Amerika serikatdan Negara-negara Eropa yang secara fisik (warna kulit, bentuk tubuh, fisiogamiras yang berbeda dengan ras lainnya. Prasangka yang bersumber pada perbedaan dalam posisi mayoritas dan minoritas.

Selanjutnya prasangka yang bersumber pada perbedaan ideology biasa ditemukan pada masyarakat di Negara yang memiliki orientasi yang kuat terhadap ideologi lain yang menjadi lawannya dalam konteks persaingan global. Adapun prasangka yang bersumber pada kejadian histories adalah prasangka dari sekelompok orang terhadap sekelompok orang lainnya dalam suatu masyarakat, bertolak dari kejadian masa lampau dari masyarakat tersebut. Pada umumnya kelompok yang berprasangka adalah kelompok yang yang para pendahulunya di masa lampau memegang kendali dan memperlakukan para pendahulu kelompok yang dikenai prasangka dengan perlakuan-perlakuan yang tidak layak dan diskriminatif.
Dilihat dari sudut psikologi perkembangan, terbentuknya prasangka pada manusia merupakan kelangsungan yang tidak berbeda dengan sikap-sikap lainnya. Pembentukan prasangka semacam itu dapat berlangsung terus sejak anak usia dini sampai orang itu menjadi dewasa. Prasangka dapat terbentuk dari usia anak-anak melalui proses belajar social. Baro & Byrne (1994) menyebutkan , anak yang berusia kurang dari lima tahun lebih cepat menyerap prasangka daripada anak-anak berumur 8-9 tahun. Proses belajar ini merupakan bagian dari proses konfirmasi individu terhadap lingkungannya.

Dalam bukunya The Nature of Prejudice (1958), Gordon W. Allport merinci lima perspektif dalam menentukan sebab-sebab terjadinya prasangka. Kelima perspektif tersebut merupakan suatu kontinum,dari penjelasan sifat secara microskopis histories sampai pada penyelesaian mikroskopis pribadi. Berikut adalah penjelasannya.

a. Perspektif Histories

Prespektif ini didasarkan atas teori pertentangan kelas, yakni menyalahkan kelas rendah yang inferior; sedangkan mereka yang tergolong dalam kelas atas mempunyai alasan untuk berprasangka terhadap kelas rendah. Misalnya, prasangka orang kulit putih terhadap negro mempunyai latar belakang sejarah, orang kulit putih sebagai “tuan’ dan orang Negro sebagai “budak”, antara penjajah dan yang dijajah, dan antara pribumi dan nonpribumi.

b. Perspektif Sosiokultural dan Situasional

Perspektif ini menekankan pada kondisi saat ini sebagai penyebab timbulnya prasangka, yang meliputi:

1) Mobilitas social, artinya kelompok yang mengalami penurunan status (mobilitas social ke bawah) akan terus mencari alasan tentang nasib buruknya dan tidak mencari penyebab sesungguhnya.

2) Konflik antar kelompok, prasangka dalam hal ini merupakan realitas dari dua kelompok yang bersaing; tidak selalu disebabkan kondisi ekonomi.

3) Stigma perkantoran, artinya bahwa ketidak amananan dan ketidakpastian di kota disebabkan ‘noda” yang dilakukan kelompok tertentu.

4) Sosialisasi, prasangka dalam hal ini muncul sebagai hasil dari proses pendidikan orang tua atau masyarakat di sekitarnya, melalui proses sosialisasi mulai kecil hingga dewasa.

c. Perspektif kepribadian.

Teori ini menekankan pada faktor kepribadian sebagai penyebab prasangka yang disebut dengan teori “frustasi agregasi”. Menurut teori ini, keadaan frustasi meruapkan kondisi yang cukup untuk timbulnya tingkah laku agresif.

d. Perspektif Fenomenologis.

Perspektif ini menekankan pada cara individu memandang atau memersepsi lingkunganya sehingga persepsilah yang menyebabkan prasangka. Sebagai anggota masyarakat, individu akan menyadari di mana atau termasuk kelompok etnis mana dia. Namun, menurut ahli psikologi sosial, Milton Rokeach,akan lebih menyenangkan / tidak berprasangka bila hidup dengan orang-orang yang mempunyai pikiran sejalan, tidak peduli degan perbedaan fisik. Dari perspektif fenomenologis ini sulit di buktikan teori yang lebih unggul sebab ada fenomena yang memeng bertentangan.

e. Perspektif Naive

Perspektif ini menyatakan bahwa prasangka lebih menyoroti objek prasangka, tidak menyoroti individu yang berprasangka. Misalnya sifat-sifat orang kulit putih menurut orang Negro atau sebaliknya

f. Perspektif Islami

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah ayat 216)

Prasangka merupakan hasil dari proses persepsi. Seseorang menerima informasi mengenai objek lalu mempersepsikannya. Persepsi merupakan merupakan perangkat yang dapat digunakan oleh seluruh makhluk. Namun, Allah SWT memberikan perangkat persepsi lain yang dapat membedakan manusia dengan makhluk lainnya, yaitu akal.

Sebenarnya, prasangka seseorang secara tidak langsung ditujukan pada Allah SWT. (Tuhan manusia itu sendiri). Namun, hal itu diarahkan pada orang lain atau kelompok lain. Maka dari itu, tidak ada seorangpun yang bisa merdeka dari prasangka buruk ini, kecuali orang yang arif tahu akan Allah, Asma’ dan Sifat-Nya, serta keyakinan adanya hikmah (kebaikan dibalik ciptaan Allah SWT). Ini sesuai hadist yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah mengikuti persangkaan hamba-Nya”. Oleh karena itu prasangka dapat dihilangkan dengan cara husnudzon (baik sangka) dalam melakukan persepsi yang didasari oleh kekuatan iman dan paham akan hikmah yang Allah tetapkan.

D. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prasangka Sosial

Proses pembentukan prasangka sosial menurut Mar’at (1981) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu;

1. Pengaruh Kepribadian

Dalam perkembangan kepribadian seseorang akan terlihat pula pembentukan prasangka sosial. Kepribadian otoriter mengarahkan seseorang membentuk suatu konsep prasangka sosial, karena ada kecenderungan orang tersebut selalu merasa curiga, berfikir dogmatis dan berpola pada diri sendiri.

2. Pendidikan dan Status

Semakin tinggi pendidikan seseorang dan semakin tinggi status yang dimilikinya akan mempengaruhi cara berfikirnya dan akan meredusir prasangka sosial.

3. Pengaruh Pendidikan Anak oleh Orangtua

Dalam hal ini orangtua memiliki nilai-nilai tradisional yang dapat dikatakan berperan sebagai famili ideologi yang akan mempengaruhi prasangka sosial.

4. Pengaruh Kelompok

Kelompok memiliki norma dan nilai tersendiri dan akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial pada kelompok tersebut.

Oleh karenanya norma kelompok yang memiliki fungsi otonom dan akan banyak memberikan informasi secara realistis atau secara emosional yang mempengaruhi sistem sikap individu.

5. Pengaruh Politik dan Ekonomi

Politik dan ekonomi sering mendominir pembentukan prasangka social Pengaruh politik dan ekonomi telah banyak memicu terjadinya prasangka sosial terhadap kelompok lain misalnya kelompok minoritas.

6. Pengaruh Komunikasi

Komunikasi juga memiliki peranan penting dalam memberikan informasi yang baik dan komponen sikap akan banyak dipengaruhi oleh media massa seperti radio, televisi, yang kesemuanya hal ini akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial dalam diri seseorang.

7. Pengaruh Hubungan Sosial

Hubungan sosial merupakan suatu media dalam mengurangi atau mempertinggi pembentukan prasangka sosial.

8. Pengaruh Spiritual

Kurangnya Iman atau sisi pemahaman individu terhadap nilai-nilai agama yang sangat mendasar dalam penciptaaan manusia dan proses kehidupan sanagat mempengaruhi untuk timbulnya prasangka negative, atau dalam isltilahnya Su’udzon.

C. Upaya Mengatasi Prasangka Sosial.

Para ahli psikologi mengemukan usaha-usaha mengatasi prasangka sosial , yaitu :

1. Dimulai dari pendidikan anak-anak di rumah dan di sekolah oleh orang tua dan guru.

2. Dengan mengadakan kontak di antara dua kelompok yang berprasangka dan permainan peran atau role playing, yakni orang yang berprasangka diminta untuk berperan sebagai orang yang menjadi korban prasangka, sehingga orang yang berprasangka akan merasakan, mengalami, dan menghayati segala penderitaan yang menjadi korban prasangka.

3. Bersikap berlapang dada dalam bergaul dengan sesama meskipun ada perbedaan.

4. Menciptakan situasi atau suasana yang tentram, damai, jauh dari rasa permusuhan atau konflik.

5. Dihindarkan dari pengajaran-pengajaran yang dapat menimbulkan prasangka sosial tersebut dan ajaran-ajaran yang sudah berprasangka sosial.

6. Penerangkan prasangka sosial lewat media massa yang memberikan pengertian dan kesadaran mengenai sebab-sebab dipertahankanya serta mengenai kerugian prasangka sosial bagi masyarakat umum.

Sedangkan upaya mengatasi prasangka dalam perspektif Islam menyatakan sebagai berikut :

a. Ibda` binafsi; Keyakinan terhadap Hikmah

Walaupun telah dibuat beberapa strategi dan konsep yang bagus tentang usaha mengurangi parsangka, jika tidak diikuti oleh masing-masing individu dalam penerapannya, maka usaha tersebut akan sia-sia belaka. Oleh kerana itu, usaha untuk mengurangi prasangka haruslah dimulai dari diri sendiri (ibda` binafsi) dengan berusaha semaksimal mungkian untuk berprasangka baik pada orang lain.

Setiap orang tidak dapat lepas dari prasangka, namun hal ini tidak mustahil untuk dihilangkan. Maka dari itu diperlukan adanya kemauan dan motivasi dari diri sendiri untuk mengadakan perubahan yang harus dimulai dari diri sendiri. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib diri seseorang, jika orang tersebut tidak merubah nasibnya sendiri. Oleh hal yang demikianlah maka Kawakami dkk, (2000) membuat kesimpulan dengan mengatakan bahwa hanya individu itu sendiri saja yang bisa mengalahkan prasangka dalam diri mereka.

Sebagai langkah awal usaha untuk mengikis prasangka dalam diri adalah dengan memahami adanya hikmah dibalik setiap kejadian atau perkara apapun, yang semuanya itu didasari oleh kekuatan iman (keyakinan) pada Allah SWT. Tentang keyakinan terhadap adanya himkah terdapat dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 216 dan surah An-Nisa` ayat 19 (Mansyur, A.Y. 2007) yang terjemahannya sebagai berikut:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah ayat 216)

Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (QS. An-Nisa` ayat 19 ).

Meyakini adanya hikmah merupakan inti dari prasangka baik (husnudzan). Menurut Harun Yahya (2004) prasangka baik merupakan salah satu ciri bagi orang-orang yang beragama. Berprasangka baik merupakan ciri dari kualitas keberagamaan seseorang. Seseorang yang mempunyai prasangka baik, akan menyadari segala keputusan Tuhan yang berlaku di alam ini dengan sikap ikhlas.

b. Kuncinya pada Kualitas Iman

Mungkin kita telah mengetahui proses persepsi, sebagaimana terdapat dalam teori psikologi. Namun proses tersebut tidak hanya berhenti sampai di situ. Proses itu dapat dikembangkan pada tahap yang lebih tinggi lagi, sehingga mendapatkan hasil yang maksimal untuk mengatasi problem manusia, baik masalah bersifat psikis mauhupun fisik.

Kita ingat, ketika sahabat Ali bin Abi Thalib RA terkena panah dan mengalami rasa sakit yang sungguh luar biasa, yang kemudian dengan menjalankan sholat sakitnya tersebut tidak terasa. Konsentrasi pada masalah (stimulus/rangsang) lain dapat menghambat situmulus rasa sakit sampai ke otak, sehingga rasa sakit tidak dirasakan. Menurut Prof. Dr. Djamaluddin Ancok (Mansyur AY. 2006), yang juga merupakan salah satu dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan fenomena itu dengan gate system theory. Menurut teori ini, rangsang sakit yang masuk ke dalam otak dapat dihambat oleh rangsang lain, dalam kasus ini adalah sholat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa konsentrasi yang penuh dalam sholat, yaitu hanya mengingat Allah Swt. akan nenutup rangsang lain yang akan terbawa ke otak.

Konsep itu pula dapat diterapkan untuk menghilangkan prasangka. Permasalahan apapapun, baik psikis maupun fisik dapat dihilangkan dengan cara berbaik sangka yang dilandasi keimanan pada Allah SWT. Kuncinya terletak pada kualitas keimanan/keyakinan.

Prasangka merupakan hasil dari proses persepsi. Seseorang menerima informasi mengenai objek lalu mempersepsikannya. Persepsi merupakan merupakan perangkat yang dapat digunakan oleh seluruh makhluk. Namun, Allah SWT memberikan perangkat persepsi lain yang dapat membedakan manusia dengan makhluk lainnya, yaitu akal. Dengan akal menusia, dapat berfikir tentang makna-makna yang tersirat (seperti kebaikan dan keburukan, keistimewaan dan kekurangan, serta kebenaran dan kebathilan) dan membuktikan keberadaan dan kekuasaan Allah SWT sebagai pencipta melalui kesimpulan yang ditariknya dari alam dan manusia (Al-Qur`an Surat QS. Fushilat; 53).

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu

Akan tetapi kemampuan akal manusia terhadap persepsi sangatlah terbatas, bahkan pemikiran manusia tidak luput dari kesalahan. Pada kondisi tertentu manusia kadang mengalami hambatan untuk berfikir jernih, sehingga ia membutuhkan bimbingan dan pengarahan (Najati 2005). Oleh Karena itu Allah SWT mengutus rasul kepada manusia serta menurunkan kepadanya Kitab Suci, guna membimbing manusia ke jalan kebaikan dan kebenaran (liAl-Qur`an Surat QS. Al-Baqarah; 151).

”sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.

Maka dari itu dalam melakukan persepsi, manusia membutuhkan kemampuan akalnya dan bimbingan dari ajaran agama yang terintegrasi dalam fitrahnya qalbu. Integrasi ini akan menghasilkan interpretasi makna yang benar dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga pemberian makna negatif (opini negatif) terhadap stimulus yang ada tidak terjadi lagi.

c. Memahami Fitrah Keragaman

Konsep keragaman atau multikulturisme dalam Islam terdapat dalam Firman Allah SWT. surah Al-Hujurat ayat 13 sebagaimana yang telah disebutkan di bagian pendahuluan. Telah menjadi bahagian dari fitrah manusia, bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam satu keturunan. Walaupun manusia berada di beberapa wilayah yang berbeda, memiliki keragaman bahasa dan suku, bahkan bangsa, namun menusia memiliki satu kesamaan yaitu satu keturunan. Allah SWT telah sengaja menciptakan manusia dalam keragaman, bahkan sampai warna kulit yang berbeda sekalipun. Allah juga membentuk seluruh alam ini sesuai dengan rencana-Nya, yang pasti memiliki hikmah. Sepatutnyalah kita berbaik sangka dalam keragaman ciptaan Allah itu, karena tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan itu semua. Fitrah keragaman itu termaktub pula dalam Al-Qur`an surat Ar-Rum ayat 22 dan surat Fathir ayat 28 (Mansyur, AY. 2007) yang terjemahannya berikut:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (Ar-Rum ayat 22)

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang mengetahui-menggunakan fungsi pikirnya). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Fathir ayat 28).

Konsep keragaman tersebut dapat menjadi potensi prasangka bagi individu yang tidak dapat memahami fitrah keragaman. Dalam awal terjadinya prasangka, individu memberikan persepsi negatif terhadap satu atau beberapa individu, setelah itu terjadilah generalisasi pada suatu kaum, etnis, ras, atau bangsa sekalipun. Dalam istilah psikologi ini disebut kategorisasi dan stereotip. Sebenarnya fitrah itu ada dalam diri manusia, yang dikenalkan oleh agama yang dianut. Namun karena pengaruh lingkungan fitrah itupun dapat berubah dan luluh bersama kuatnya nafsu dalam diri manusia. Pengaruh lingkungan itu diperkuat oleh hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: Setiap bayi / anak yang bau lahir telah membawa potensi fitrah, maka kedua orang tuanyalah (lingkungan ) yang mengubah fitrah itu....”. Maka dari itu, untuk mengembalikan fitrah itu, manusia harus pula kembali pada ajaran agama yang memuat konsep aturan hidup yang harus diaplikasikan dalam kehidupan oleh setiap ummatnya.

Setiap agama ataupun kaum di dunia ini mempunyai konsep dasar tentang hubungan sesama manusia dan alam. Khususnya agama Islam, mempunyai konsep dasar mengenai kemampuan individu untuk saling mengenal (ta`ruf) dan menyesuaikan diri (adjasment) terhadap sesama manusia dan lingkungan yang ada. Dari surah Al-Hujurat ayat 13 di atas, dapat dipahami bahwa manusia diciptakan untuk dapat saling kenal-mengenal diantara sesamanya. Oleh karena itu, secara tidak langsung manusia diwajibkan untuk mengenali keadaan diri masing-masing, orang lain, juga lingkungan sekitarnya.

Konsep Ta`aruf di sini, tidak hanya sekedar kenal saja, tetapi mempunyai makna luas dan mendalam yaitu kerja sama, empati, berbagi, tolong-menolong, hidup rukun, serta memiliki kesamaan visi dalam kehidupan. Diperlukannya ta`ruf dalam kehidupan bermasyarakat kerana masing-masing indidividu berasal dari latar belakang (suku, ras dan bangsa) yang berbeda. Telah diketahui bersama bahwa ajaran Islam terbagi ke dalam empat bagian besar, iaitu aqidah, syari`ah, mu`amalah dan ahklaq. Konsep ta`aruf dalam bingkai besar ajaran islam terdapat pada aspek mu`amalah dan akhlaq. Kedua bagian ini mengarah pada aturan hidup sesama manusia dan makhluq. Khususnya mua`malah, menurut Suhendi (2002) adalah segala peraturan yang ditetapkan Allah SWT untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam hidup dan kehidupan.

Selain nilai ta`ruf, dalam ayat di atas terdapat pula nilai yang paling penting dan mendasar adalah nilai spiritual/keTuhanan, yaitu taqwa. Taqwa merupakan landasan utama dari ta`ruf dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau nilai ta`ruf itu untuk sesama manusia (hablumminannas), sedangkan nilai taqwa adalah untuk berhubungan dengan Tuhan (hablummninalah). Hal itu dapat dilihat dalam surah Ali Imran ayat 112 (Mansyur, AY. 2007).Nilai ta`ruf harus dilandasi taqwa. Misalnya, seorang yang menolong orang lain kerana semata-mata didasari oleh nilai ibadah (taqwa) kepada Allah SWT. Integrasi ta`aruf dan taqwa akan mengolah potensi insani dalam meraih nilai-nilai ilahiyah yang berkenaan dengan tata aturan hubungannya antar manusia (makhluqah). Dua konsep itu menjadi dasar utama dalam membina hubungan yang harmonis dalam keragaman hidup bermasyarakat dan dapat pula menghindarkan permasalahan kehidupan kemanusian, misalnya prasangka dan akibatnya.

BAB III

KESIMPULAN


Prasangka social sebenarnya adalah sikap dan terbentuknya sikap tersebut berawal dari persepsi. Jadi prasangka social terintegrasi dalam kepribadian seseorang dan dengan adanya prasangka social dalam diriakan mempengaruhi persepsinya terhadap subyek atau obyek yang ada dalam lingkungannya.


Berbicara mengenai prasangka social sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari sikap. Sebagaiman diuiraikan oleh Sherif dan Cantril, (dalam Mar’at, 1981) bahwa problematic prasangka itu sebenarnya merupakan masalah sikap secara khusus, sehingga dalam memebahas prasangka social tidak terlepas dari masalah sikap.


Sekalipun prasangka tidak dapat dipisahkandari sikap seseorang, namun dalam kenyataan sehari-hari dapat ditemui pula bahwa prasangka sosial belum tentu atau tidak selamanya dapat mempengeruhi seseorang dalam mempersepsi, apalagi memepersepsi kemampuan seseorang yang dimiliki orang lain. Makin lama seseorang bekerja dalam situasi yang sama dengan orang lain, maka akan semakin meningkatkan intensitas hubungan langsung. Oleh karena itu semakin baik pula dalam mempersepsi kemampuan kerja orang lain.

Dalam sudut pandang Islam, prasangka bukan saja dapat dikurangi, namun bahkan dapat dihilangkan. Prasangka bermula dari hati (qalb) yang kotor, kemudian mengarah pada pemberian makna negatif di otak sehingga sikap dan perilakupun terbentuk dengan sendirinya.

Oleh sebab itu, seseorang pada umumnya sering membuat penilaian awal dan kadangkala penilaian tersebut bukan berdasarkan fakta yang benar, sehingga sikap prasangka tertanam dalam diri.

Maka dari itu untuk menghilangkan prasangka harus dimulai dari pusat/sumber penyebabnya yaitu hati. Dengan mengobati sumbernya, insyaAllah prasangka tidak akan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, H. Drs. Psikologi Sosial, Jakarta : PT Rineka Cipta. 2002.

Indonesia. 1984.

http://latheevbigboss.blogspot.com/2010/05/prasangka-sosial-psikologi-sosial.html,07-06-2010,1:21

http://ahmadyasserm.multiply.com/journal/item/9, 07-06-2010,2:18

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar